SIMALUNGUN |Infopersadanews.id
Tumpukan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang diduga mengalami restan hingga beberapa hari di areal Afdeling 2 PTPN IV Regional II Unit Kebun Marihat menuai sorotan tajam. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius terhadap sistem pengawasan, pengangkutan, serta kinerja manajemen perkebunan milik BUMN tersebut.(Senin, 24/08/2026)
Sejumlah TBS terlihat menumpuk di lingkungan perkantoran Afdeling 2. Buah yang secara fisik tampak mulai lusuh dan mengalami penurunan kesegaran itu diduga belum segera diangkut menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
Jika benar terjadi keterlambatan pengangkutan hingga empat atau lima hari, persoalannya bukan lagi sekadar masalah teknis transportasi. Kondisi tersebut berpotensi menyentuh aspek kerugian perusahaan, penurunan mutu produksi, hingga lemahnya pengawasan operasional.
TBS yang terlalu lama tertahan setelah dipanen berpotensi mengalami peningkatan Asam Lemak Bebas (ALB), susut bobot akibat kehilangan kadar air, serta penurunan mutu minyak sawit yang dihasilkan. Semakin lama buah tertahan, semakin besar pula risiko penurunan kualitas bahan baku yang masuk ke PKS.
Sorotan pun mengarah kepada jajaran pengawasan mulai dari mandor panen, Mandor I, asisten afdeling, Asisten Kepala (Askep), hingga manager kebun. Sebab, sistem perkebunan yang sehat semestinya mampu memastikan buah hasil panen segera dikumpulkan dan diangkut sesuai standar operasional.
Krani Produksi Akui Ada TBS Restan
Saat dikonfirmasi di Kantor Afdeling 2, Rizky Hasibuan yang mengaku sebagai krani produksi membenarkan adanya TBS restan.
“Buah di Afdeling 2 memang restan, dan bukan hanya di Afdeling 2 saja, bahkan afdeling lain juga. Hal itu disebabkan angkutan transportasi sedang kosong. Vendor transportasi di sini Boang Manalu,” ujarnya.
Namun ketika ditanya mengenai dugaan lamanya TBS tertahan hingga kondisi tandan terlihat lusuh, Rizky menyebut buah tersebut baru mengalami restan sekitar satu hari.
Pernyataan tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru. Sebab, kondisi fisik TBS yang terlihat di lapangan dinilai perlu diverifikasi secara objektif, termasuk melalui data panen, surat pengangkutan, catatan produksi, dan waktu masuk TBS ke PKS.
Asisten dan Manager Bungkam, Wartawan Malah Diblokir
Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada Asisten Afdeling, Ombasa Damanik. Awak media telah mengirimkan foto dan video kondisi TBS restan melalui aplikasi WhatsApp.
Namun, bukannya memberikan penjelasan mengenai penyebab dan langkah penanganan, kontak wartawan disebut justru diblokir.
Hal serupa terjadi saat konfirmasi diarahkan kepada Manager Kebun, Andi Sahatman Purba. Bukannya memberikan klarifikasi mengenai kondisi operasional tersebut, kontak awak media juga disebut diblokir.
Sikap tersebut tentu semakin menambah tanda tanya publik. Jika persoalan TBS restan merupakan persoalan teknis biasa, mengapa klarifikasi justru ditutup?
Berondolan Berserakan, Pengawasan Ikut Dipertanyakan
Persoalan tidak berhenti pada TBS restan. Di sejumlah titik areal panen juga ditemukan berondolan sawit yang diduga tidak dikutip secara maksimal di area piringan.
Kondisi itu menjadi indikasi yang perlu dievaluasi karena kehilangan berondolan maupun buah yang tertahan terlalu lama sama-sama berpotensi memengaruhi capaian produksi perusahaan.
Terlebih, sebagian areal Afdeling 2 disebut berbatasan dengan permukiman warga. TBS yang menumpuk dalam waktu lama dinilai dapat meningkatkan kerawanan terhadap kehilangan atau pencurian buah apabila pengamanan tidak dilakukan secara optimal.
Dengan demikian, persoalan ini tidak semestinya berhenti pada alasan “angkutan kosong”. Manajemen perlu membuka secara terang siapa vendor transportasinya, berapa jumlah armada yang tersedia, berapa volume TBS yang tertahan, sejak kapan restan terjadi, serta berapa potensi susut dan kerugian akibat keterlambatan tersebut.
PTPN IV PalmCo Diminta Turun Tangan
PTPN IV PalmCo diminta tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem panen, pengangkutan, pengawasan afdeling dan kinerja manajemen Unit Kebun Marihat perlu dilakukan secara terbuka.
Sementara itu, General Manager (GM) Distrik 1 Bah Jambi, Masa Eli Lahagu, juga telah dikonfirmasi terkait dugaan banyaknya TBS restan tersebut.
Persoalannya kini tinggal menunggu jawaban dan tindakan nyata manajemen.
Sebab, kebun milik negara bukan tempat untuk membiarkan hasil produksi bernilai ekonomi tinggi tertahan berhari-hari tanpa penjelasan yang transparan.
Jika TBS benar-benar restan berhari-hari, siapa yang bertanggung jawab atas susut bobot, penurunan mutu, potensi kehilangan buah, dan kemungkinan kerugian perusahaan?
Pertanyaan itu patut dijawab secara terbuka oleh manajemen PTPN IV Regional II Unit Kebun Marihat. Jangan sampai persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan di level operasional justru berkembang menjadi persoalan tata kelola dan akuntabilitas perusahaan BUMN.(A.S)







