Debu Proyek Rekonstruksi Jalan Simpang Nagojor–Jawa Maraja Bah Jambi Dikeluhkan Warga, Pengendara: Jangan Tunggu Ada Korban!

 


SIMALUNGUN | Infopersadanews.id

Proyek rekonstruksi Jalan Simpang Nagojor/Tanah Jawa menuju Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun, kembali menuai keluhan warga dan pengguna jalan.

Bacaan Lainnya

 


Selain menyebabkan antrean dan kemacetan, aktivitas pengerjaan proyek tersebut dinilai menimbulkan persoalan baru berupa debu tebal yang beterbangan. Kondisi semakin parah ketika cuaca panas dan kendaraan melintas cukup padat.

Pantauan di lokasi, Selasa (15/9/2026), debu tampak beterbangan dari badan jalan akibat aktivitas alat berat, material proyek, serta lalu lintas kendaraan. Kepulan debu bahkan menyelimuti pengguna jalan yang melintas.

Pengendara sepeda motor menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Sejumlah pengendara terlihat menutup wajah dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan debu. Namun, debu tetap masuk ke mata, menempel pada pakaian dan mengganggu jarak pandang.

Gultom, warga sekaligus pengguna jalan, mengaku kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Kalau siang dan cuaca panas, debunya sangat banyak. Kami berharap ada penyiraman rutin supaya debunya tidak terlalu mengganggu,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Sirait, pengendara sepeda motor yang setiap hari melintasi ruas tersebut.

“Yang paling terasa itu pengendara motor. Debunya masuk ke mata dan menempel di pakaian. Kadang harus pakai masker dobel karena debunya cukup tebal,” katanya.

Menurutnya, pembangunan jalan memang dibutuhkan masyarakat, tetapi dampak selama proses pengerjaan juga tidak boleh diabaikan.

“Kalau perbaikan jalan bagus untuk jangka panjang, tetapi selama pengerjaan sebaiknya penyiraman lebih sering dilakukan,” tambahnya.

Proyek rekonstruksi Jalan Simpang Nagojor menuju Jawa Maraja Bah Jambi yang dikerjakan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Simalungun diketahui telah dimulai sejak pertengahan Agustus 2026.

Publik Bertanya: Pengendalian Debu Di Mana?

Munculnya keluhan warga ini menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan dan pengendalian dampak lingkungan selama pekerjaan berlangsung.

Apakah penyiraman jalan sudah dilakukan secara rutin? Siapa yang bertanggung jawab memastikan debu tidak mengganggu keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan?

Warga berharap pelaksana proyek tidak hanya mengejar target fisik pembangunan, tetapi juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat yang setiap hari menggunakan ruas jalan tersebut.

Kepala Dinas PUTR Kabupaten Simalungun, Hotbinson Damanik, ketika dikonfirmasi terkait kondisi proyek yang minim penyiraman hingga menimbulkan keluhan pengendara, termasuk setelah dikirimkan dokumentasi kondisi debu di lokasi, belum memberikan tanggapan.

Sikap bungkam tersebut tentu menimbulkan tanda tanya publik. Sebab, proyek menggunakan anggaran pemerintah dan dikerjakan di ruang publik yang setiap hari dilalui masyarakat.

Pimpinan Media Infopersadanews.id meminta Dinas PUTR Kabupaten Simalungun segera mengevaluasi pengendalian debu di lokasi serta memerintahkan pelaksana meningkatkan penyiraman dan langkah keselamatan lainnya. Jangan sampai masyarakat harus “menghirup debu” sebagai konsekuensi dari pembangunan jalan yang seharusnya memberikan kenyamanan.

(A.S)

 


Pos terkait

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *